Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Islam Radikalisme bukan islam ke Indonesiaan


Memang sangat sulit menerjemahkan Islam itu seperti apa sejatinya. Apakah berupa sekte pemahaman, idiologi , atau sebuah ajaran syriat saja yang hanya bergelut pada dunia fiqih dan syariat. Antara halal dan haram, antara syurga dan neraka, atau tingkatan tingaktan Maqam, tarikat, hakikat sampai ke Marifat. Dunia islam saat ini di Indonesia sangat lah rumit untuk menjelasakan apakah Islam yang berbau klasik tekstual atau modernis kontekstual. Hal ini sangat terlihat betapa rumitnya perdebatan dan pertentangan antara Islam yang hanya berpegang teguh kepada Al-quran dan hadis tanpa ada campur tangan dari budaya  (ideal totalistic) dan Islam yang lentur akan adanya klasifikasi pengaruh budaya dan syriat (Revormistik). 

Perdebatan yang tak kunjung usai terus mengalami pemahamn baru. Islam fundamentalis berhadapan dengan islam modernis, islam intoleran harus bertarung dengan Islam yang menjunjung tinggi Humanisasi, islam liberal, dan faham radikalisme yang menjamur Negri saat ini.

Agama Islam sejatinya sudah jauh hari mengalami perdebatan, dan pertentangan sejak rasulallah SAW masih hidup pun, Penolakan ajaran islam bukanlah hal yang lumrah. Perang sifin antara Ali dan Fatimah yang menimbulkan faham syiah, perdebatan kaum Mutazilah dan Sunni,  jabariyah. Ajaran wahabi serta masih banyak pemahaman islam yang dulu pernah muncul. Perdebatan antara Islam dan Sains pernah mengalami krusial seperti halnya evolusi Manusia yang digagas oleh Darwin harus dipecahkan oleh Al- quran. 

Dalam sejarah panjangnya Islam mengalami beberapa decade, awal masuk Islam, masa ke emasan pada dinasti Ummayah dan abbayiah dan abad stagnan tanpa adanya maju dan mundur umat Islam yang jelas pada masa sekrang kita hidup. Dari beberapa decade masa setelah masa ke emasan Islam terjadi banyak pergolakan pemikiran- pemikiran baru dalam islam, lahirnya filsafat dan tokoh islam pembaharu, Muhamad abduh, Rasyid Ridho, Asghor, M. Arkhoun, Hasan hanafi atau yang sangat terkenal Jamaludin Al afgani adalah salah satu yang menjadi kesadaran Umat islam Indonesia dalam semangat patriotism dalam merebut kemerdekaan.

Dalam sejarah Panjang Islam Indonesia yang masuk pada abad 7 M, bertepatan dengan masa Utsman bin affan yang awalnya islam Nusantara dalam kedamain dan nuansa islam yg kulturalnya terhadap nilai nilai Islam. Barulah ketika abad ke 13M wali songo menjadi peran penting sejarah yang perlu diingat yang menyebarkan islam di Nusantara. Dalam sejarah singkatnya hingga merdeka, peran santri dan kyai dalam merenggut kemerdekaan tidak lepas dari pengaruh pesantren- pesantren. lahirnya Muhammadiyah Th 1912 M, , disusul Nahdatul Ulama, Serikat Dagang Islam ( SDI) serta aliansi daerah daerah nusantara yang bergerak dan berjuang atas nama semangat Islam. Dari data sejarah Indonesia ini lah, kita mengambil sub bahwa, islam di Indonesia lahir dari peran santri dan kyai Sunni yang berasal dari kultural dan budaya Indonesia. Bukan negri Arab lah yang menancapkan bendera merah putih.

Data data sejarahlah perlunya dicatat untuk melihat situasi Negri sakarang ini.bahkan lahirnya idiologi Pancasila pun melahirkan banyak perdebatan dikalangan ulama, Perlukah Negara Islam atau Negara yang beragama islam dalam rumusan Pancasila. Tokoh agama dan nasionalis dalam menyusun 5 sila mendasar tidaklah semudah yang dipikirkan. Perlunya pendamping tokoh agama dalam meyusunya yang akhirnya idiologi ini di modif sebagian rupa sehingga Pancasila merupakan niali islam itu sendiri. Masih dengan sejrah sebagai realita konflik sekrang ini. 

Pergolakan dan perdebatan terus memuncak pada Orde baru, aliran aliran baru serta terjadinya konflik pemecah belah rezim otoriter perlu kiranya menjadi acuan kembali. Setelah orde baru wajah islam berubah menjadi nuansa yang begitu menakutkan. Islam sebagai sebuah sensitifitas antar kelompok yang melahirkan perpercahan antar umat. Kasus pembakaran Greja, konflik Poso.dan masih banyak data kasus atas nama agama lainya. hingga samapai detik ini konflik anatar agama bukan lagi antar kepercayaan. Melainkan satu kepercayaan yang saling mengkafirkan satu sama lain.

Dari data sejarah singkat. Islam yang dipandang beupa fungsi dari suatu nilai menjadi sebuah sekte sekte baru legal formil. Antar pengikut faham garis lurus yang memahami hanya lingkup syariat. Harus memaksakan diri sebagai Islam yang berdiri pada ajaran kelompok- kelompok.. Islam liberal dan Islam garis keras seperti faham radikalisme misalnya. Dua faham tersebut sangat bertentangan cara befikirnya. Islam liberal yang biasanya beranjak dari logika revormistik yang merduksi hukum-hukum dan wacana baru Islam yang bernuasna modern dengan fundamntalis (ideal totaistik) yang menjadi lawan sebagai islam yang kaffah ( Murni Islam). 

Lahirnya radikalisme yang menjamur di negri ini, dalam fakta sejarahnya jauh dari cita cita ulama terdahulu dan nilai Pancaila itu sendiri. Radikaslisme yang melahirkan anarkis sangat memaksakan bahwa islam bukan lagi sebuah ajaran. Melainkan sebuah mahluk yang dijunjung tinggi. Sehingga apabila ada yang melawan dan bertentangan denganya harus di bela dalam bentuk apaun. Islam bukan lagi sebuah niali rahmatan lilamin berlaku bagi semua umat, islam hanaya berlaku bagi kalangan kelompoknya yang mengatas namakan kebenaran tunggal. Sehingaa Allah SWT  hanya di anggap sebagai tuhanya umat islam saja, nabi muhamad hanya umatnya umat muslim saja.

Indonesia saat ini terjerat oleh kasus kasus yang mengatas namakan agama sebagai pengambilan otoritas kebenaran. Intoleransi dalam kehidupan perlahan hadir mengikat kehidupan yang tanpa sadar merusak kerukunan NKRI. Cita cita dalam nilai Pancasila kian hari semakin retak. Melihat situasi konflik yang kerap muncul atas nama ajaran agama. Sifat intoleransi ini dibawa oleh ormas kecil yang menggap dirinya sebagai pembela Islam yang kerap hadir bukan sebagai sebuah solusi melainkan sebuah patriot anarkis yang jelas metode dakwahnya sangat berlawanan dengan idiologi pancasila. Berbeda dengan  Toleransi yang dibawa oleh dua sayap ormas besar NU dan Muhaamdiyah telah mencerminkan Islam ke indonesiaan yang sejatinya. 

Pengalaman serta sepak terjang yang dibawa sampai detik ini merupakan cerminan bagaimana Indonesia menggiring kerukunan, persatuan antar ummat dan yang terpenting mereka sangat menghargai perjuangan para ulama- ulama terdahulu yang mempejuangkan kemerdekaan. Menjaga keharmonisan antar umat beragama  sebagai cita citanya. NKRI yang di sologankanya merupakan harga mati. Ulama ulama yang lahir sampai detik ini mereka tau dan mungkin sangat enggan untuk berkomentar lantaran banyak kalangan umat muslim yang ikut- ikutan menjangkit faham radikalisme akan mengganggapnya sesat. Mungkin saja akan menggapnya kafir. 

Timbulnya faham radikalisme bukan sebuah lawan bagi ke dua ormas tersebut. Melainkan bagaimana antisifasi dan ketakutan tersendiri bahwa Indonesia tidak akan cocok dengan islam yang ke arab- araban, yang ingin mendirikan daulah islamiyah dan khilafah. Islam bukan lagi soal modis dan gaya islam hadir sebagai nilai kehudpan sehari hari.  Islam menyelusuri urat nadi yang mengontrol gerak gerika prilaku manusia.

Fitnah antara ulama dengan ummatnya karana ketidak fahaman umat akan ilmu agama kerap kali menyalahi kodrat. Ketidak ikut sertaan Nahdatu ulama dan Muhammadiyah dalam aksi 121 misalnya. menjadi pemicu kemarahan yang kerap kali difahami ke dua sayap tersebut tidak lagi sesuai dengan syariat islam. ketidak ikut sertaan bagi orang yang awwam akan menganggap NU dan Muhammadiyah tidak lagi relevan dengan ajaran syariat islam. ketidak ikut sertaan ke dua sayap tersebuat bukanlah tanpa alasan, melainkan banyak sekali yang di pertimbangkan mealui kajian fiqih, batsul massail . kaidah fiqiah. Yang mungkin jarang bagi banyak umat muslim yang mempertimbangkan hal ini. Ormas yang menganggap pembela umat islam menjadi raja atau dan harus disanjung lantaran keberhasilanya mempersatukan ummat islam dalam membela agama. Padahal masih banyak yang terselubung utusan NU dalam mengawali, dan menertiban aksi tersebut. Entah mau dibawa kemana islam Indonesia sekarang, ketidak jelian umat dalam memandang sesuatu hanaya berkutik degan yang tampak saja. Tanpa menyelusuri dan mendalam bagaiman ajaran islam itu seluas samudra.




M Adam Mubarok, S.H
M Adam Mubarok, S.H Mencari sesuatu dan berfikir adalah hidup saya dan tugas Manusia. saya selalu merenung tentang peristiwa dan belajar mengenal diri itu yang lebih penting

Posting Komentar untuk "Islam Radikalisme bukan islam ke Indonesiaan"