Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ruang Guru dalam Tradisi Keilmuan

gambar brand Aplikasi Ruang Guru

Jika saya berbicara persoalan pendidikan tidak harus menunggu momen-momen tertentu. Apalagi pendidikan merupakan problem kita bersama hari ini. Berbicara pendidikan adalah berbicara generasi kita jauh kedepannya. Jika mengulik lagi persoalan problem pendidikan kita tentu sangatlah kompleks. Mulai dari problem sosial, problem struktural, birokrasi maupun politik. 

Perkembangan zaman telah menghiasi rubik-rubik pendidikan dan berusaha beradaptasi dengan realitas zaman. Gerakan pendidikan di lini masa seperti gerakan ayo mengajar, gerakan literasi merupakan tindakan yang perlu diapresiasi, karena gerakan tersebut merupakan respon atas realitas kita tentang pendidikan kita yang kian tidak menentu. Membaca pendidikan kita sama degan membaca peta, kita harus pandai membaca terobosan apa yang perlu kita lakukan agar problem masyarakat kita bisa teratasi. Mulai dari segi pendidikan kita yang belum merata hingga hak pendidikan semua warga negara yang belum terealisasikan dengan baik. Mengenal Adam Belva pasti mengenal dia sebagai CEO Ruang guru dam sekaligus merupakan staf khusus pembantu presiden. 

Ruang guru yang berdiri tahun 2014 baru saya dengar 2 tahun lalu. Sebuah platform ruang belajar online bagi siswa dengan menggunakan akses kursus dan bimbingan belajar online. Harapan dari platform ini memberi ruang siswa dapat belajar praktis dengan menggunakan smartphone maupun laptop. Intinya memberikan dan mempermudah gerak siswa dalam belajar. 

Tentunya dengan fitur vidio yang inovatif dan guru profesional yang nggak gaptek teknologi. Perkembangan zaman memiliki tantangan sendiri. Peran institusi pendidikan harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pola yang berkembang adalah teknologi informasi mampu menjadi pendamping kebutuhan. 

Bayangkan teknologi sudah menyapa kita lebih dekat. Semua orang mampu bekerja tanpa harus keluar rumah dari kebutuhan passion, keperluan membayar listrik, pajak hingga kebutuhan makan. Tantangan masa menjadi Pekerjaan rumah dibelahan dunia lain. Dimana prospek masa depan manusia harus berdaptasi dengan teknologi informasi termasuk kegiatan ajar mengajar antar guru dan murid. Dalam tradisi keilmuan yang sudah mapan, peran guru merupakan peran tunggal bagi peserta didik, dan siswa adalah subjek yang diberikan Ilmu. 

meskipun teori ini dibantah oleh Paulo Freire yang mengatakan bahwa peserta didik dan pendidik adalah subjek dan ilmu sebagai objek. Meskipun demikian lingkungan yang kita hadapi hingga sekarang guru tetaplah peran yang memiliki kedudukan istimewa. Di dunia pesantren guru merupakan simbol spritualitas sekaligus tenaga ajar yang harus dihormati dan dimuliakan. Tradisi keilmuan merupakan puncak etalase dari keberkahan ilmu terletak pada guru yang dimuliakan.  Sanad ke lmuan dalam tradisi Islam merupakan tanggung jawab bagi terhubungnya ilmu. Hal demikian tidak mengherankan jika guru terutama pesantren sangat mengistimewakan peran guru. 

Orientasi pendidikan mengisyaratkan peran akhlak dan taat merupakan bagian dari seseorang memperoleh ilmu. Ruang Guru yang kini populer dan bahkan sudah tayang di media televisi nasional merupakan gaya baru bagi orientasi belajar kita. Kita tidak benar-benar lagi mengetahui siapa yang harus kita muliakan dan hormati. tidak benar-benar merasakan mimik wajah marah saat kita lalai dan lupa nasihatnya, bahkan ruang guru tidak mengerti kondisi murid saat sulit mempelajari sesuatu. 

Semua itu terjadi karena teknologi berperan menggantikan manusia sebagi mahluk yang mempunyai sisi emosional. Ruang guru memberikan wadah untuk mempermudah murid dalam memahami pelajaran tentu perlu diapresiasi karena gagasan inovasi ini bisa menjalin relasi membuat lapangan pekerjaan baru. Peserta didik berhak mendapatkan bekal ilmu yang diajarkan dan guru virtual wajib memberikan solusi dari setiap persoalan. Namun persolan ruang guru tidak mampu diakses setiap lini masyarakat, terutama masyarakat yang gagap akan teknologi serta jaringan internet yang tidak memadai seperti di perkotaan. Seorang murid di pedasaan masih mengandalkan seorang guru yang rela harus door to door seperti yang terjadi di Sragen Jawa tengah karena peserta didik tidak memiliki akses internet untuk melakukan pembelajaran. Setiap masa mempunyai anak kandung yang berbeda begitu juga ruang guru tidak bisa disamakan dengan tokoh penggerak pendidikan masa kolonial seperti Ra. Kartini, KH. Ahmad Dahlan dan peran gerakan Indonesia mengajar saat ini. 

Pengetahuan dan Hak pendidikan harus sampai setiap daerah yang tidak sempat memiliki peran ini. Saya rasa banyak gerakan aktivis pendidikan di negeri kita. Tinggal bagaimana kita mampu membaca peta dunia yang terus berjalan. Tentunya tidak menyampingkan nilai-nilai kemanusiaan dan pesan tradisi pendidikan kita
M Adam Mubarok, S.H
M Adam Mubarok, S.H Mencari sesuatu dan berfikir adalah hidup saya dan tugas Manusia. saya selalu merenung tentang peristiwa dan belajar mengenal diri itu yang lebih penting

21 komentar untuk "Ruang Guru dalam Tradisi Keilmuan"

  1. Thanks, artikel nya. Saya jadi lebih mengetahui dunia pandidikan. Terutama dalam keadaan sekarang!

    BalasHapus
  2. Pelajar Design7/23/2020

    Kadang" suka males sama ruang guru, lagi pengen nonton TV, eh malah di ambil alih semua sama Ruang Guru,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Penjajah stasiun TV tuh. Isinya kebnyakan jualan. Ya namanya juga bisnis oriented

      Hapus
  3. Di daerah saya meski sudah masuk internet, tapi tetap saja murid-muridnya masih belum melek. Apalagi menilik kondisi keluarga, ada beberapa bahkan belum mampu untuk membeli handphone. Itu kondisinya satu keluarga tidak ada yang punya hp. Kualitas pendidikan, teknologi, dan lain hal masih belum merata ke seluruh negeri..

    BalasHapus
  4. Artikel yang sangat bagus kak. Dari sini saya jadi lebih tahu tentang Ruang Guru dan perannya. Tapi kalau dilihat dari kondisi sekarang, melakukan proses pembelajaran daring sepertinya tidak bisa dijadikan hal yang utama. Karena dampak pandemi yang membuat sekolah tak tatap muka secara langsung dirasa kurang bagus untuk orang tua, murid, bahkan guru juga. Jadi sebagai pilihan kedua mungkin masih oke. Tapi jika dijadikan yang utama atau bahkan satu-satunya sepertinya belum siap. Apalagi berhadapan dengan mindset masyarakat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, peran Ruang Guru tujuan awalnya memang mulia. memberikan Fasilitas belajar dg mudah. Tapi. Memang ruang guru bukan gerakan penddidikan. Jadi ya melayani yang ber-uang aja sih. Sama yang punya gadget. Orang dipedasaan akses belajar seperti ini masih awam. yang pinter tambah pinter karna akses belajar mudah. Di daerah tertentu tidak bisa memanfaatkan akses ini.

      Hapus
  5. Setuju gan, kalo dari saya ruang guru itu memang berhasil memanfaatkan kesempatan dimana masih banyak siswa di Indonesia yang tujuan belajarnya itu hanya jangka pendek, cuma buat lulus ujian titik. Jadi ya banyak yg berbondong-bondong pakai platform yg nyaman dan memudahkan seperti ini.
    Menurut saya Indonesia ini memang perlu mengubah sistem pendidikan biar nggak terus terusan begini. Karena salah satu kunci kemajuan bangsa ya lewat kemajuan pendidikannya.

    BalasHapus
  6. Hanya sebagian daerah aja yang bisa menggunakan Ruang Guru, karena Internet belum menjangkau ke semua daerah.
    Tapi tujuan dengan adanya ruang guru benar2 memberikan metode cara pengajaran yang bisa meningkatkan mutu para pelajar, dan para guru pun bisa bekerjasama agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari Ruang Guru.

    BalasHapus
  7. Untuk apresiasi memang benar, sebagai terobosan pastinya akan berbeda dengan tradisi sebelumnya tapi tetap perlu dikritisi agar tidak mandeg apalagi kalau ada sisi negatif yang menonjol, perlu dipikirkan terobosan lainnya :)

    BalasHapus
  8. Kehadiran Ruang Guru sebagai sebuah inovasi anak bangsa memang perlu diapresiasi, bahkan sengaja dibold pada artikel di atas. Tapi memang kental terasa sentuhan bisnisnya. Ketika lima sekawan, empat dari mereka memakai aplikasi ini. Lantas mereka bercerita-cerita sembari menyantap bekal di jam istirahat. Maka yang seorang itu tentu ingin pula berlangganan selayaknya teman-temannya. Nyata, kondisi keluarganya semata mampu mencukupi ketubuhan pokok. Yang dicemaskan, mentalnya sedikit banyaknya akan merasa terpuruk. Ada sugesti yang menyatakan bahwa dirinya telah tertinggal. Padahal sesungguhnya ia pintar dari teman-temannya.

    BalasHapus
  9. Bisa dibilang model pembelajaran baru dibawa oleh ruang guru, tapi apakah ruang guru bisa benar" terasa kehadiran dan kebermanfaatannya hingga ke masyarakat bawah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jelas tidak. Harus berlangganan dulu.

      Hehe

      Hapus
  10. Hanya sebagian orang saja yang bisa menggunakan ruang guru, apa lagi dengan mereka yang tinggal di pedesaan pasti sulit untuk mengakses internet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keterbatasan ekonomi, dan kepemilikan gaway juga, ngak punya hak
      pintar bagi orang yang berbayar. hehe

      Hapus
  11. inilah kehebatan ceo dan founder di indonesia yang dapat megembangkan aplikasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengembangkan kehidupan bangsa dibagian saja. hehe

      Hapus
  12. Perkembangan sesuatu pasti ada salah satu plus minusnya..
    Begitu juga perkembangan dunia pendidikan..
    Tinggal gimana kita menyikapi dan memanfaatkannya..


    iotomagz_tio

    BalasHapus
  13. Ya begitulah.. Semakin hari semakin maju.. Di sana ada celah, di sana pula bisnis punya kesempatan.. Tetapi emang suatu terobosan baru itu harus selalu dicoba.. Seperti saat ini yang serba serbi online.. Tetapi jika emang tujuan memajukan anak bangsa.. Saya lebih pro ke zenius.. Kalo RG dikit" uang dikit" bayar.. RG dana buat iklan mending jadiin dana buat memajukan anak bangsa seperti zenius

    BalasHapus
  14. Saya kecewa dengan Ruang guru saat mendapatkan proyek milyaran dari program kartu prakerja dan di saat yang sama ownernya menjadi staff khusus presiden

    BalasHapus
  15. Wah terimakasih gan sudah membahas ruang guru, yang bikin saya malas itu pas asik nonton tv eh, malah disiarkan di banyak stasiun tv.

    BalasHapus