Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Film Tilik dalam Fenomena Post Truth


Percakalan Bu Tejo dalam film Tilik

Saya mengetahui film Tilik bermula saat beberapa orang memposting ibu Tejo yang diperankan sebagai pemeran utama antagonis di didinding media sosial seperti insta story Whathsapp dan tranding twitter. Atas rasa penasaran ini saya hendak menonton film berdurasi 34 menit dari kanal YouTube

Latar film ini mengambil scane di pedesaan Yogyakarta. Budaya Tilik atau menjenguk orang sakit ini memang masih melekat di desa. Dengan nuansa pedesaan yang kuat, saya jadi teringat masa kecil ketika naik pick up, truk dengan ibu saya saat menjenguk tetangga atau kerabat yang sedang sakit. Kebiasaan menjenguk ini jelas masih melekat di beberapa tempat, tidak terkecuali di Bantul, Yogyakarta.

Budi Wibowo selaku eksekutif produser mengambil budaya ini sebenernya tidak mengetahui. Ia sendiri mengatakan harus melakukan observasi terdahulu. Script writer yang ditulis Bagus Sumartono mengajak penonton juga untuk melihat budaya kearifan lokal yang serat akan nilai kepedulian, saling tolong menolong yang sangat serat akan makna.

Film ini bercerita tentang gunjingan Ibu Tejo (Siti Fauziah ) tentang kembang desa bernama Ibu Dian. Ibu Dian (Lully Syahkisrani) yang dibicarakan oleh ibu-ibu saat perjalanan menuju rumah sakit diceritakan sebagai wanita yang tidak baik, wanita malam, wanita yang sering menggoda suami-suami dikampung. Pembicaraan itu berlangsung alot ala gunjingan ibu-ibu. Karakter Bu Tejo yang Vokal saat berbicara bahasa Jawa Jogja ini membuat penonton greget. Ibu Tejo dan Yu Ning (Briliana Desy) dua karakter peran yang kontras. Ibu Ning selalu menyekat pembicaraan yang dianggap tudingan yang tidak mendasar atas tuduhan Ibu Tejo. Perbicangan yang memenuhi durasi ini membuat para penonton akan berpihak pada ibu Ning yang selalu berfikir positif. Ibu-ibu yang mulanya diam ikut nimbrung dan terpengaruh oleh Ibu Tejo. Obrolan yang penuh gosip pada ahirnya kebenaran berpihak pada Ibu Tejo dan Ibu-ibu.

Baca Juga:

Pesan Film Tilik
Film ini sengaja dibuat untuk memberikan pesan dan nilai dari fenomena "Post Truth" di era digital. Bu Tejo di Lukiskan sebagai netizen / warganeet yang sering julid dan ngegosip di media sosial. Sehingga gosip di tersebut sangat mudah tersebar. Post Truth adalah sebuah istilah budaya politik yang mengatakan bahwa kebenaran berdasarkan emosi seseorang bukan berdasarkan fakta. Dan budaya post truth ini sangat erat dengan penyebaran berita Hoax, Hate Speach yang secara masif mampu menular bagi penerima informasi. Post Truth juga dilukiskan dengan kondisi masyarakat yang minim literasi dalam menelaah informasi.

Selain post Truth pesan yang diangkat dari karakter Bu Tejo adalah gambaran diri seserorang yang penggosip tetangga. Kecurigaan tersebut, terlepas dari benar atau tidaknya informasi. Selayaknya aib dan keburukan seseorang tidak boleh disebarkan.

Terlepas dari benar atau tidaknya informasi. Selayaknya aib dan keburukan seseorang tidak boleh disebarkan.

Film "Tilik" karya Wahyu Agung Prasetyo yang bekerjasama Dinas Kebudayaan DIY mendapakan nominasi Official Selection World Cinema Amsterdam 2019 ini layak ditonton semua kalangan dalam upaya penanganan Hoax, hate speach. Selain itu film pendek ini juga sebagai bentuk contoh dari kegiatan warganet kita di media Social.

M Adam Mubarok, S.H
M Adam Mubarok, S.H Mencari sesuatu dan berfikir adalah hidup saya dan tugas Manusia. saya selalu merenung tentang peristiwa dan belajar mengenal diri itu yang lebih penting

9 komentar untuk "Pesan Film Tilik dalam Fenomena Post Truth"

  1. Tapi ceritanya sangat bikin pegel gan menurut saya. Udah jauh-jauh berpikir kalau bu Tejo ini cuma gosip doang, eh ternyata bener si Dian emang sudah ada yang "punya"

    BalasHapus
  2. Ada link vidio nya? Saya pengen coba nonton. Sepertinya menarik untuk saya tonton...

    BalasHapus
  3. Karakteristik Bu Tejo Mewakili netizen jaman sekarang dek kayaknya..
    Begitu denger berita langsung di sebar, gak tau hoak atau benar..
    Sebaiknya kita bijak dalam bersosmed.. Jgn sampe jadi boomerang Karena ulah sendiri di sosmed..

    >>iotomagz<<

    BalasHapus
  4. Jadi ini yang Viral filmnya, sebenernya saya juga belum nonton filmnya seperti apa ceritanya.

    BalasHapus
  5. Lucu, ndeso, mengangkat kearifan lokal, itu kesan pertama yang saya tangkap saat menonton film viral ini.

    BalasHapus
  6. Entah kenapa film Tilik menjadi tenar, padahal dibuat dua tahun yang lalu. Tapi saya pribadi juga baru mengetahuinya sekarang. Hingga banyak kalangan yang mulai memandang film pendek Indonesia yang memang pantas diperhatikan.

    BalasHapus
  7. Pesan moralnya dapat banget tuh

    BalasHapus