Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Indonesia, sulit melakukan PSBB

Gambar, PSBB Jakarta, kota Jakarta Jakarta saat pandemi covid-19


Keputusan DKI Jakarta melalui gubernur Anis Baswedan, pemberlakuan PSBB dilakukan lagi pada hari ini, 14 September 2020. Ditengah keputusannya untuk melakukan PSBB kembali, menuai kencaman pro dan kontra. 


Terutama dikalangan elit politik pusat dan daerah Jakarta. Alasan lainya, mengungkapkan kebijakan daerah harus berdasarkan pula pada keputusan pemerintah pusat. Karena melihat Jakarta sebagai ibu kota, dimana transaksi kegiatan ekonomi berpusat di Jakarta. Hal demikian menghawatirkan akan terjadinya resesi ekonomi Indonesia. 


Disisi lain, kesehatan dan tenaga medis perlunya perhatian di pusat ibu kota Jakarta. Sebagai jantung episentrum wilayah yang memiliki penduduk yang padat, cukuplah menjadi alasan. Kenapa Jakarta menyumbang korban positif corona peringkat pertama. Selain itu, tempat Rumah sakit dan tenaga medis yang terus berjatuhan menjadi salah satu alasan Pemerintahan kota DKI Jakarta menerapkan PSBB kembali.


Indonesia menjadi peringkat kedua kasus positif di Asia tenggara setelah Filipina. Namun menjadi peringkat pertama angka kematian terbanyak. Penerapan social distancing dan PSBB diberlakukan kembali. Meski demikian, PR terbesar dari Indonesia adalah bagaimana mensiasati masyarakat kita agar memahami rambu covid-19 ini adalah hal nyata. Faktanya masih banyak terjadi pelanggaran protokol kesehatan dan kegiatan berkerumunan.


Sebagai masyarakat Indonesia, perlunya perhatian khusus, kenapa Indonesia sangat sulit dalam menerapkan rambu-rambu protokol kesehatan. Meski razia masker sudah diberlakukan dibeberapa daerah. Tetap saja masih banyak yang belum sadar akan hal ini. Disini penulis akan menyampaikan, Alasan Indonesia sulit menerapkan PSBB


Pertama, Kultur masyarakat. Gotong royong, kumpul dan silaturahim adalah ciri dari masyarakat kita. Pepatah mengatakan "mangan ora mangan sing penting ngumpul". Tradisi silaturahim. Dan kebudayaan yang mengharuskan masyarakat untuk berkerumun tidak bisa diindahkan. Masyarakat kita sangat senang dengan kegiatan yang bersifat kerumunan. Seperti acara kebudayaan setempat, tradisi keagamaan. Hingga kultur silaturahim saat lebaran menjadi candu dalam membentuk masyarakat yang menjujung nilai persaudaraan. Atas dasar ini. Kegiatan kerumunan dipasar, kegiatan yang bersifat ramai tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan lama.


Kedua, Masyarakat Heterogen, selain kultur. Masyarakat kita sangatlah kompleks dan heterogen dari segi budaya, kebiasaan, adat dan hal lainya. Atas alasan ini, Pemerintah tidak mampu menyeragamkan persepsi kebijakan di semua daerah. Hal demikian memang sangat sulit, karena menghadapkan pada masyarakat yang multikultural.


Ketiga, Penduduk Indonesia terbanyak. Indonesia diibaratkan bangunan rumah yang besar. Jika dibersihkan seluruh rumah, pastinya tidak butuh waktu dalam beberapa menit saja. Harus merapikan perabotan, debu dan juga membersihkan dibeberapa lantai di kamar lain. Saya membandingkan dengan negara Singapore yang saya asumsikan sebagai kost berukuran 3x4. Sangat mudah dalam membersihkan bukan? Seperti itulah kita. Penduduk yang banyak ini menjadi alasan kenapa Indonesia melampaui negara lain dalam jumlah terinfeksi covid-19.


Keempat, Politik dan Hukum. Sebagai negara hukum yang memiliki perangkat UU sebagai panglimanya. Hukum menjadi kekuatan tersendiri dalam mengatur semua keputusan pemerintah dan daerah. Namun, seringkali hukum dan politik menjadi dua element  yang silang pendapat dalam menentukan kebijakan. Harusnya, Hukum berjalan dengan naluri politik yang cerdas untuk membangun cita-cita bersama. Pada kenyataanya. Covid-19 habis terkuras dengan narasi politik. Disisi lain, kesadaran hukum masyarakat kita masih sangatlah rendah sehingga. Pemerintah tidak mampu berfikir fokus dalam menangani pandamik ini.


PSBB yang dilakukan di Jakarta merupakan bagian dari respon melawan Covid-19. Meski demikian kita dihadapkan oleh beberapa tantangan. Terutama dalam mengahadapi masyarakat kita sendiri. Kebijakan PSBB tidaklah mudah, tanpa perangkat pemerintah yang kuat dan masyarakat yang disiplin dan taat. Alasan di atas tentunya sebagai pijakan dasar. Kenapa pada kenyataanya kita sangatlah sulit melawan covid-19 ini.

Adam Mubarok
Adam Mubarok Mahluk mageran, kadang suka julid. Selalu senang melihat senyummu. ngak suka ngopi dan bukan perokok. Tapi Selalu beruntung kalo nongki sama pecinta kopi, meski selalu minum susu

Posting Komentar untuk "Alasan Indonesia, sulit melakukan PSBB"