Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baiknya Terminologi Islam Nusantara dihapuskan

Islam nusantara di Indonesia. Merupakan tradisi yang melekat samapai sekarang


Terminologi Islam nusantara seringkali menjadi perdebatan dikalangan netizen bahkan orang yang menyebut dirinya ulama. Padahal, istilah nusantara yang dimaksud untuk mengidentifikasikan kultur islam yang berada di Indonesia. Artinya, Islam nusantara bukan lah ajaran baru yang dibuat dikalangan NU khususnya. Melainkan, sebutkan bahwa Islam nusantara adalah islam yang lahir di Indonesia. Atas segala ajaran dan tradisi islam yang sejak lama masih melekat.


Dalam tradisi ke Islam-an. Budaya atau kebiasaan yang sudah melekat pada masyarakat dengan hubungan syariat Islam tidak bisa dipisahkan begitu saja. Tradisi yang memiliki nilai luhur asalkan tidak bertentangan dalam ajaran Islam bisa di kulturasikan dengan nilai Islam. Sebagai contoh, tradisi selametan atau kita sering menyebutnya syukuran.Masyarakat dalam tradisi ini biasanya memberikan hibah kepada masyarakat setempat dan alam atas rezeki atau keberuntungan yang diperolehnya. Disini agama Islam hadir sebagai veliw yang tidak menghilangkan kebiasaan lama tadi. Dengan di balut baca-bacaan al-Quran, yasinan, tahlil dan doa. Tradisi selametan tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam karena disi oleh rangkaian kegiatan agama. Tradisi tersebut tentunya tidak ada di negara lain. Maka istilah nusantara di definisikan sebagai ciri suatu kebiasaan (adat) lama yang masih melekat hingga kini dengan nuansa yang dibalut dengan nilai Islam. 


Selain itu, istilah nusantara juga di identifikasikan dengan nuansa bangunan corak Hindu Budha pada pra sejarahnya, Bentuk masjid dengan menara segitiga seperti masjid Demak di Jawa Timur mencirikan peradaban di Indonesia. Corak tersebut harusnya di modifikasi dengan corak yang sama tanpa menghilangkan eksistensi sejarah kita.


Namun, masyarakat kita sering keliru dam memaknai istilah ini. Atas kekeliruan ini. Istilah nusantara yang disematkan dalam Islam baiknya dihilangkan. Para Kiai dan ulama NU khususnya menutup dalam-dalam istilah ini dikalangan publik. Karena dapat memicu permusuhan antar saudara muslim. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan istilah tersebut masih digaungkan di media sosial maupun seminar-seminar.


Islam nusantara yang dipahami hal layak muslim  dimaknai sebagai ajaran baru. kesesatan logika ini terus digaungkan disebar dengan narasi kebencian. Sehingga kalangan ulama NU menjadi boomerang penyesatan, bahkan penyebutan takfiri di kelompok tertentu. Atas dasar ini, penyebutan Islam nusantara baiknya diminimalisir untuk mencegah kerukunan antara kelompok agama.


Islam nusantara yang dipahami hal layak muslim  dimaknai sebagai ajaran baru. kesesatan logika ini terus digaungkan disebar dengan narasi kebencian.

 

Edukasi dan pengertian yang sudah diperjelas dikalangan NU untuk meluruskan istilah ini, nampaknya percuma. Dilain sisi kelompok pemahaman ekstrimis dan kalangan Islam moderat di Indonesia masih memiliki jarak yang kuat. Hal yang harus dipahami. bahwa kita menyadari, perbedaan pandangan, pemahaman dan tafsir tidak pernah tunggal dimana pun.


Menghilangkan istilah bukan artinya menghilangkan tradisi Islam yang ada di Indonesia. Melainkan mencoba untuk bijak mengambil jalan baik demi memutus kemudharatan yang terus berkembang. sesuai dengan kaidah fiqih "Darrul mafasid Muqadamun ala jalbi Masholih" menghindari kemudaratan (kerusakan) baiknya di hilangakan dari pada mendatangkan manfaat. Dengan cara yang bijak ini. NU dan tokoh ulama telah mengambil peran dalam mengajarkan sikap menghargai satu sama lain. Disisi lain, sikap non toleran dan pemahaman agama yang terkesan tekstual Indonesia, harus menyadari istilah terminologi islam nusantara bukanlah sekte atau ajaran baru.

Adam Mubarok
Adam Mubarok Mahluk mageran, kadang suka julid. Selalu senang melihat senyummu. ngak suka ngopi dan bukan perokok. Tapi Selalu beruntung kalo nongki sama pecinta kopi, meski selalu minum susu

Posting Komentar untuk " Baiknya Terminologi Islam Nusantara dihapuskan"