Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bekisar Merah : Review Buku Ahmad Tohari

Cover buku novel Bekisar Merah Ahmad Tohari

Karya Ahmad Tohari. Melalui torehan yang dituangkan merupakan imajinasi alam, desa dan kemiskinan. Tepatnya orang yang berada pada lingkungan menengah kebawah. Begitulah Ahmad Tohari melukiskan karya buku-bukunya. Termasuk buku yang telah saya baca berjudul "Bekisar Merah".  Buku yang diterbitkan oleh republika ini berkisah tentang kampung Karangsoga, penyadap nira, hingga sekelumit cerita perkotaan dengan intrik akan uang dan kekuasaan.

Judul Buku : Bekisar Merah
NISBN : 978-979-22-6632-0
Penulis : Ahmad Tohari
Jumlah halaman : 360 
Penerbit : Gramedia, Jakarta,2011


Karangsoga adalah nama kampung yang sederhana, terpencil yang jauh dari kehidupan kota. Pekerjaan utama dikampung ini sebagai penyadap nira (pembuat gula merah). Orang-orang yang mengambil sisa-sisa kehidupan membuat gula jawa. Perkenalan dengan Karangsoga merupakan desa yang menawan, subur, alami, teduh dihiasi oleh warga kampung yang menggambarkan ketidakberdayaan, warga yang tertutup oleh arus derasnya informasi. Sehingga budaya bergunjing, stigma buruk pada janda dan perawan masih melekat di desa tersebut. Meski demikian, kampung Karangsoga masih menyimpan nilai dan ajaran prinsip agama. Begitulah Ahmad Tohari melukiskannya dengan apik dan gemblang. Pembaca akan akan larut terbuai melambung tentang kehidupan desa tahun sebelum adanya aliran listrik.


Ialah Lasti sebagai tokoh utama. Wajahnya cantik jelita seperti orang Jepang. Matanya sipit berkulit putih dan berlesung pipi. Seorang perempuan yang lugu. Orang tercantik di karangsoga yang dimiliki Darsa suaminya sebagai seorang penyadap nira. Hidupnya sederhana.Namun,  Kecantikanya Lasi  justru mengantarkannya pada lika-liku kehidupan yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.


Cerita kehidupan Lasi bermula saat penghianatan Darsa kepada istrinya yang mempersunting perempuan lain bernama Sipah. Darsa yang merasa terjebak oleh ibu Sipah harus berurusan pada retaknya rumah tangganya dengan Lasi. Konflik tersebut terus menjalar ke cerita selanjutnya saat Lasih memutuskan untuk pergi meninggalkan Karangsoga ke Jakarta. Dengan perasaan sedih dan gejolak rumah tangga serta konflik gunjingan warga Karangsoga. Perempuan cantik ini memasuki gerbang masalah batin yang tidak karuan. Apalagi ketika pertemuannya dengan Ibu Lanting sebagai pembuka jalan cerita Lasi.


Baca Juga : Mata yang Enak Dipandang : Review Buku Ahmad Tohari

 

Ibu Lanting yang dikenal seorang perempuan tua glamor dan suka gonta-ganti pacar adalah seorang Mucikari kelas kakap. Siasat-siasat untuk memperdaya Lasi menjadi istri orang-orang berduit dan berpengaruh akhirnya terwujud. Sikap gadis desa yang lugu ini menjadikan Lasi terjebak pada kebaikan ibu Lintang yang selalu memberikannya apa saja. Kecurigaan-kecurigaan itu sebenarnya sudah difahami. Namun keberdayaan dan siasat ibu Lintang yang profesional dan licik membuat Lasi tidak bisa berbuat apa-apa, selain menurutinya. Padahal Lasi selalu ingat pesan Mbo Wirjayati bahwa "Tidak ada pemberian yang tidak menuntut imbalan". Konflik batin pernikahan Lasti dengan Handarbeni merupakan kesepakatan mucikari bu Lintang. Rasa raumatik Lasi  belum saja reda dengan Darsa dan warga Karangsoga harus menelan pil pait kembali.


"Tidak ada pemberian yang tidak menuntut imbalan"


Kedekatan Bu Lintang dengan konglomerat semacam menjadi kesempatan dalam memanfaat bekisar Merah ini, Bekisar merah merupakan persilangan kawin antara ayam hutan dan ayam kota yang sering menjadi pajangan bagi orang konglomerat. Ya sebutan ini pantas untuk Lasi karena paras cantiknya menyerupai wajah blasteran Jepang. Tidak hanya Handarbeni, setelah pernikahan yang dirasa hanya main-main. Lasi pun diperkenalkan oleh Bahbung untuk dibeli kembali. Lagi-lagi bu Lintang handal mempengaruhi bekisar ini sampai tidak berkutik. 


Kecantikan adalah modal utama dalam meraih keberuntungan dan kepenakan. itu yang selalu dijanjikan oleh Bu Lintang. Uang merupakan prioritas utama dalam meraih segala keinginannya. Namun tidak demikian buat Lasi. Karangsoga adalah tempat ia kembali, meneduhkan pilu kisahnya di Jakarta. Meskipun semua keinginan Ia dapat. Karangsoga, Mbo Wirjayati, Mbah Mus dan orang penyadap nira di kampungnya  adalah kenangan teduh yang tidak bisa ia lupakan.


Jakarta adalah sebuah peta hidup yang penuh keterasingan baginya. Meski begitu Ia harus terpaksa melakoni hidupnya sebagai Lasi yang baru. Perempuan-perempuan memang sering digadaikan dan diperjual belikan disini. Seperti tidak lagi ada harga diri seorang perempuan. Lasi melihat perempuan hanya sebagi pajangan dan boneka bagi orang-orang berharta. Apalagi dengan wajah yang cantik, pastilah punya daya tarik yang lebih bagi laki-laki hidung belang seperti Handarbeni dan Bambung. Perdagangan perempuan dan perbuatan nirsila menggambarkan kota Jakarta sebagai miniatur kehidupan yang suram dibalik kemegahan dan kemewahan. Sekali lagi Ahmad Tohari menggambarkan dengan apik tentang kegiatan Karangsoga dan Jakarta yang sungguh kontras.


Konflik batin Lasi serta sekelumit jalan terjal yang penuh tangis. Ada semangat baru bagi Lasi ketika Kanjat, teman Lasi sejak kecil hadir sebagai sosok peneduh dan pelampiasan batinnya. Ia merupakan cinta yang terpendam dibalik jurang kekayaan dan kepantasan dirinya di Karangsoga. Kanjatlah teman setia lasi yang menghiasi rubik dan teka-teki sepanjang novel ini.


Pesan Novel "Bekisar Merah"

Dalam novel ini, Ahmad Tohari berupaya untuk menampilkan kesan Desa yang lugu dan eksotis. Desa sebagai tempat kembali dan meneduh kasih. Begitulah kiranya. Di balik kepercayaan dan kegiatan warga Karangsoga, desa memberikan kesan ketidakberdayaan atas kekuatan pemilik modal yang besar. Kematian akibat jatuh dari pohon penyadap nira begitu sering terjadi, sehingga menjadi hal yang lumrah untuk sekian nyawa yang melayang. Kenaikan harga pasar yang dimanipulatif oleh teugke, serta rutinitas mata pencarian tidak luput dari perhatian Ahmad Tohari. Yang seolah ingin berkata. Desa selain tempat kembali. Ada banyak juga ketidakberdayaan yang harus dibasmi oleh kesadaran orang-orang yang berpendidikan.


Perempuan mempunyai nilai luhur. Ia bukan sebagai boneka dan kelas ke dua. Memuliakan wanita sebagai manusia seutuhnya merupakan manusia yang beradab. Dan kebiadaban laki-laki ada pada memperlakukan wanita sebagai benda atau pemanis hiasan.


Begitu juga dengan Jakarta. Miniatur kesuksesan serta gedung yang megah tidak menggambarkan kekayaan batin dan norma. Uang yang berlimpah tidak menjamin hidup merdeka dan bahagia. Kekayaan harta dan kenikmatan tidak pernah cukup, tanpa manusia menyadari bahwa demikian adalah syahwat dan nafsu yang tidak pernah habis. Kebahagiaan juga dapat diraih dengan hal sederhana. Seperti cinta terhadap keluarga dikampung halaman, Cinta suami Darsa, aroma bau nira, hingga sambal terasi dan sayur bening. Hal ini memberikan kesan bahwa sebaik-baiknya tempat perantau yang engkau singgahi, jangan melupakan tempat kembali.


Adam Mubarok
Adam Mubarok Mahluk mageran, kadang suka julid. Selalu senang melihat senyummu. ngak suka ngopi dan bukan perokok. Tapi Selalu beruntung kalo nongki sama pecinta kopi, meski selalu minum susu

8 komentar untuk " Bekisar Merah : Review Buku Ahmad Tohari"

  1. Sungguh cerita yang inspiratif dan tidak diduga-duga, ahmad tohari, salah satu penulis favorit 😍

    BalasHapus
  2. Pesannya begitu kuat. Cukup menggambarkan realita kehidupan yang sangat keras di masa kini

    BalasHapus
  3. Ahmad tohari salah satu penulis keren di tanah air, karyanya yang satu ini juga terlihat eksotis dan patut dibaca ya. Yak masuk list bacaan deh hihi

    BalasHapus
  4. Jadi nostalgia. Beli novel ini saat masih kuliah jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Rujuannya buat nugas, tapi ditolak dosen dan endingnya jadi bacaan saja. Cukup berhati-hati saat adik ke kamar dan ngambil buku ini untuk dibaca. Karena awalannya sedikit tidak baik dikonsumsi anak kecil, hehe.

    BalasHapus
  5. Pesan yang terkandung sangat dalam ya. Dulu desa pada novel" atau buku cerita lain memang sering digambarkan sebagai sesuatu yang lugu dan eksotis ya.. Sekarang semakin maju perkembangan zaman, desa makin berubah juga. Bahkan, desa saat ini seperti terlalu banyak menerima info negatif atau kurangnya literasi dan filtrasi akan berita yang masuk ke telinga

    BalasHapus
  6. Perbandingan kehidupan desa dan kota yang di tulis secara baik

    BalasHapus
  7. Saya pernah mendengar cerita narasi dari koran Jawa Pos. Bagian yang paling menarik perhatian saya adalah konflik batin dan setting suasana desa terpencil serta penggambaran karakter tokoh yang dalam. Benar-benar karya yang patut diapresiasi.

    BalasHapus
  8. Waw keren betuls mas,, suka jadinyaa

    BalasHapus