Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Istriku Seribu: Review buku Emha Ainun Nadjib

Buku Caknun Emha ainun nadjib Istriku seribu


Membaca buku Emha Ainun Nadjib adalah membaca pesan langit yang disampaikan dalam bahasa bumi. Ini yang seringkali saya pahami. Gaya penulisannya yang mengalir, jujur dan apa adanya. Buku-buku yang diciptakan selalu serat akan makna. Kadang mengritik dan kadang juga bergurau. Mengenal buku Emha Ainun Nadjib merupakan jalan spritual cara bagaimana pembaca memahami hakikat agama. Meski karya bukunya tak selalu melulu soal agama. Kemasan yang disajikan tidak jauh dari seputar, Hakikat, sosial dan budaya.


Judul Buku : Istriku Seribu

Penulis : Emha Ainun Nadjib

E-ISBN : 978-602-291-104-3

Penerbit : PT Bentang Pustaka, Sleman D.I Yogyakarta

Jumlah halaman : 44 hlm


Istriku Seribu: Review buku Emha Ainun Nadjib

"'Istriku Seribu". Buku seri ini menarik bagi saya. karena sudah lama juga saya tidak membaca karya beliau. Meski saya sudah sedikit memahami alur pola judul yang ditulisnya. Yang membaut pembaca akan bertanya-tanya tentang apa maksud"Istriku seribu". Seperti buku lainya berjudul "Tuhan pun berpuasa", Sedang Tuhan pun cemburu". Kehadiran plot judul yang mendalam membingkai imajinasi pembaca akan pertanyaan besar.


Manusia adalah mahluk segala atmosfir yang membingkai alam semesta pada dirinya. Pergulatan batin internal serta sosiologis berasyarakat (hablum minan nas) harus tidak luput dari dimensi ke Tuhan. Akal sebagai pembeda dari mahluk lainya menjadikan manusia sangat mulia. Kemuliaan ini terletak pada  kemandirian dalam memilih baik dan benar. Tidak aneh, Jika Malaikat patuh dan tunduk pada penciptanya-Nya. Karena malaikat hanya patuh tanpa memiliki akal seperti manusia. Kemudian kemuliaan mutlak yang diberikan Tuhan ini, dimanfaatkan dalam memahami ayat dan pesan-pesan agama. 


Baca Juga: 67 Tahun Emha Ainun Najib sebuah Pesan Cinta


"Tuhan Mengajak Berdiskusi" merupakan sub judul buku ini bahwa; Tuhan tidak hanya memerintah melainkan berdiskusi. Upaya ini agar manusia mandiri dalam proses dan mencerna keputusan. Cak Nun memberikan pemetaan pernyataan-pernyataan Tuhan dengan hitungan persen. Pertama, Tuhan memberikan kisaran dogma (al-Qur'an) 3,5 persen sisanya 96.5 persen merupakan diskusi dan demokrasi. Artinya untuk memahami ayat ilahiyah tidak bisa hanya berdasarkan teks. Tanpa ilmu, wawasan yang dimiliki manusia. Bukankah Tuhan telah memerintah manusia untuk berfikir, Afala takilun, afala tatafakarun.


Dalam judul yang sama, Dahulu sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Negeri Arab menjadikan perempuan seperti pajangan yang tidak memiliki harga. Bahkan menjadi aib kala itu. Kedatangan Muhammad SAW merevormasi kebiasaan jahiliyah itu. Laki-laki yang mempersunting istri hingga ratusan istri dipangkas oleh perintah agama menjadi empat. Disini Tuhan memancing kedewasaan manusia dengan perintah "kalau Engkau Takut tidak bisa berbuat adil, maka satu istri saja". Kata "maka" memliki induk kandung atas pertimbangan-pertimbangan. Seperti halnya "makanlah anjing ini" merupakan perintah pengecualian dalam hukum ketika dalam kedaruratan dalam mempertahankan nyawa manusia (hifjunas). 


Nabi Muhammad Saw dalam mempersunting istri setelah Khadijah dan Aisyah ra, merupakan pertimbangan secara konteks sosial bukan berdasarkan individu. Ia mempertimbangkan kemaslahatan bagi perempuan yang terlantar dan ditinggalkan. Konteks kewajiban sosial sebagai perintah untuk kemaslahatan bukanlah sebagai syahwat pribadi. 


Maka, Kawin empat itu juga berangkat dari persyaratan-persyaratan sosial yang kita himpun disamping dari yang didapatkan oleh Tuhan dan sejarah, Juga kita cari melalui aktivitas akal kita sendiri"

  • Cak Nun


Akal adalah pusat dalam mencerna pesan-pesan nilai agama. Begitu saya seringkali memahami konteks dalam setiap buku karya Cak Nun. "Istriku Seribu" merupakan rangkaian imajinatif pesan-pesan keumatan secara sosiologis, manusia, alam dan ke-Tuhanan. Memaknai istri dari lahiriah adalah dua insan manusia yang menyatu dalam raga. Tidak hanya dimaknai sebatas itu. Interaksi manusia dalam segi sosiologi harus berdasarkan pada nalar cinta seperti Suami Istri (Rahman).


Nabi Muhammad tatkala menjelang ke Rahiba pemilik alam semesta. Ia memiliki rohman kepada umatnya. Bahkan ucapan yang terakhir yang diucapkan Rasulallah adalah umati, umati, umati. Bukan lah istri ku melainkan umatnya. Pesan cinta yang begitu dalam membuat Rasulallah selalu membayangkan umat manusia (Rohman). Umat manusia nabi Muhammad adalah seribu istri yang ia cintai. 


Penutup

Buku ini hanya berjumlah 46 halaman yang saya baca di aplikasi Ipunas. Buku ini juga banyak berbicara soal hakikat kehidupan manusia. Seperti kehidupan Kiai Sudrun yang digambar sebagai sosok alim tetapi tidak waras dalam pergaulan. Hakikat manusia seperti kekuasaan, harta dan beda yang kita cintai selama ini bukan lah satu-satunya jalan kebahagiaan. Sebagai penutup saya sangat menyukai quote cak Nun yang berbunyi 


Penduduk Negeriku malas belajar sejarah, ogah berfikir, tidak pernah merasa penting untuk mempelajari suatu persoalan melalui pertimbangan pemikiran yang seksama. Kalau ada buah busuk, Mereka beramai-ramai sibuk mengutuknya, membuangnya, menghina buah itu. Tanpa sedikit pun ingat pada pohonnya apalagi akarnya. Terlebih lagi tanahnya. jangankan lagi pencipta tanah Itu. 

  • Cak Nun

Adam Mubarok
Adam Mubarok Mahluk mageran, kadang suka julid. Selalu senang melihat senyummu. ngak suka ngopi dan bukan perokok. Tapi Selalu beruntung kalo nongki sama pecinta kopi, meski selalu minum susu

1 komentar untuk "Istriku Seribu: Review buku Emha Ainun Nadjib"

  1. Rasanya saya pernah baca buku ini via pdf !leg4l wkwk

    Saya kira tulisannya bakal lebih mudah dipahami, nyatanya saya geleng-geleng aja bacanya. Sambil mikir, "Ini tentang apa sih"😂

    BalasHapus