Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan dan Kapitalisme: Buku Miranda Malonka

 

Review, cover, beli Buku Miranda Malonka Perempuan dan Kapitalisme



Tulisan ini diawali oleh essai tentang "Semua hal ada harganya". Sebuah pertanyaan yang mengkritik perkembangan dunia kita hari ini. Pertanyaan-pertanyaan ini lalu kita analisa sebagi anak kandung lahirnya masa setelah revolusi industri yang mempengaruhi pandangan hidup umat manusia hingga sekarang. 

Sebutan kapitalisme yang disampaikan penulis merupakan teori yang berkembang yang secara sadar atau tidak kita telah bergelut dalam sistem ini. Ketika kita bangun pagi, kita tidak pernah absen dari bermain ponsel pintar yang dapat memenuhi permintaan apa saja. Dari mulai belanja online, mengantar ke suatu tujuan, membayar tagihan listrik, hingga belajar dan menyerap informasi  tidak luput menghiasi hari-hari kita. Akses yang cepat dan segala kebutuhan yang mudah dapat membantu semua pekerjaan dengan efesien. Dibalik evolusi sosial yang kita alami harin ini, peran kapitalisme pra industri yang mempercepat laju prodak gaya baru dan corak pemikiran umat manusia hari ini.

Prinsip dari kapitalisme semua orang memiliki kesempatan. Prinsip ini memberikan ruang bagi manusia untuk bersaing bebas dalam berkompetisi. Yang kuat akan mengalahkan yang lemah, dan begitu pun sebaliknya. Namun dalam ekonomi kapitalis kita mengenal pola persaingan yang bebas dari prinsip nilai. Kecendrungan manusia yang licik memanfaatkan situasi ini dalam segi apapun. Sehingga mempengaruhi manusia dalam berfikir dan menentukan jalan hidupnya.

Bagi Miranda Malonka, kapitalisme bukan hanya dimaknai oleh teori ekonomi yang selama ini kita kenal. Melainkan sebuah peradaban umat manusia baru yang hadir hari ini dalam nadi kehidupan kita setia hari. Manusia yang bermula bertahan hidup melalui kebutuhan makan, bersosial dan berpindah-pindah. Manusia modern tidaklah cukup dengan itu. Tanpa brand ternama, tempat nongkrong yang instagramable hingga kebutuhan gaya hidup lain yang memiliki kelas-kelas dalam mendefinisikan siapa sosok manusia. 

Manusia seringkali direduksi hanya pada sebatas apa yang ia punya. Tanpa mengenal jauh seberapa banyak manusia merangkak , berjalan hingga menjadi manusia yang memiliki perasaan, kasih sayang, cinta hingga sikap empati. Kehadiran kapitalisme mereduksi manusia berdasarkan kelas kelas sosial baru ditengah masyarakat. Dalam dunia pekerja misalnya, berapa banyak orang yang mencintai pekerjaannya sendiri? saya rasa tidak banyak. bahkan seringkali manusia bahkan tidak mengerti jalan hidupnya. Semua jalan dan keputusan hanya berdasarkan cita-cita sukses di kepala nya berdasarkan profesi dan kemewahan pribadi. 

Saya sangat tertarik dengan quote Miranda Malonka, berbunyi "kematian jauh lebih berkuasa daripada segalanya. Dan kehidupan adalah satu-satunya saya punya" Saya memaknai kalimat tersebut; begitu berharganya arti sebuah manusia dengan segala potensi yang dimilikinya. Manusia mempunyai hobi, seperti berjalan-jalan menikmati alam, dan tak luput dari rasa harmonis mencintai keluarga dan sahabat. Waktu begitu sangatlah berharga, jangan sampai, demi anggapan-anggapan status sosial kita justru luput dari mengenal diri dan bahagia.

"kematian jauh lebih berkuasa daripada segalanya. Dan kehidupan adalah satu-satunya saya punya" 

Ketika pertama kali Tuhan menciptakan manusia bernama nabi Adam as. Ia melanggar larangan Tuhan untuk tidak memakan buah khuldi. Naluri manusia untuk memiliki dan rasa penasaran telah tergambar pada sosok nabi. Sejarah manusia juga tidak lepas dari pelanggaran, perang, pembunuhan atas nama naluri kekuasaan dan harta. Hadirnya kapitalisme ini memberi tempat persaingan individu yang semakin individualistik.

Evolusi sosial juga berjalan tidak selamanya unggul. Perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama diberbagai sektor. yang sejak dulu laki-laki telah bercocok tanam dan menetap dan menghasilkan surplus, Hal ini digambarkan oleh Engles bahwa laki-laki pula yang mengontrol, memproduksi perdagangan, yang selanjutnya kontrol tersebut menjalar ke semua aspek politik, pendidikan, sosial hingga agama.

Ia mengkritik juga pemahaman agama yang menganggap perempuan sebagai property dan hanya sebagai mahluk reproduksi saja dengan term "semakin banyak anak semakin banyak rezeki pula". Perempuan juga sering di marginalkan oleh dominasi kekuatan laki-laki. Anggapan-anggapan tersebut tetap semakin subur tatkala budaya suatu masyarakat yang tidak mau berfikir kritis.  


Essai yang ditulis oleh Miranda Malonka merupakan opini yang ditulis secara jujur dan kritis. Ia mengkritisi isu sosial juga kemanusiaan. Buku berjudul "Perempuan dan kapitalisme" merupakan salah satu essainya. Membaca buku ini juga memahami banyak prespektif dan gagasan yang segar. Dikala perempuan bergelut dengan dapur, sumur. Gagasan Miranda berani bersua menentang budaya patriarki . Ia juga consern dan menyukai sains yang mempengaruhi gaya tulisannya yang mengalir namun rasional. 

Judul essai yang paling saya sukai berjudul "Wajah asli masyarakat Indonesia dibalik topeng Bhinneka". Ia berpendapat, negeri kita masih belum siap menerapkan Bhinneka. Sologan itu hanya manis di kata, pada praktiknya pahit dirasa. Permasalahan isu politik identitas merupakan contoh real bahwa masyarakat kita masih terkotak-kotak oleh pribumi dan non pribumi. Padahal menurutnya, istilah dan pribumi mempunyai historis dan arkeologi asimilasi negara global. Namun entah, ketidak sukaan dan kemandekan berfikir. Kita acap kali gelap prihal praktik Bhineka Tunggal Ika.

Buku ini hanya berjumlah 164 halaman. Cukup memberikan pembaca berfikir atas gagasan yang disampaikan. Buku ini merangkum tiga bab essai antaranya; Perempuan dan kapitalisme, Perkara yang Alamiah, Hidup bermasyarakat. Disini saya tidak bisa merangkum secara spesifik setiap judulnya. Semoga gambaran, dan review buku ini bisa membuat pembaca tercerahkan. Sekian
Adam Mubarok
Adam Mubarok Mahluk mageran, kadang suka julid. Selalu senang melihat senyummu. ngak suka ngopi dan bukan perokok. Tapi Selalu beruntung kalo nongki sama pecinta kopi, meski selalu minum susu

2 komentar untuk "Perempuan dan Kapitalisme: Buku Miranda Malonka"

  1. Selamanya gak akan ada bangsa yang bisa siap untuk menerapkan Bhinneka kalau syaratnya siap, apalagi sekarang saat politik selalu menjual isu politik partisan ya masyarakat yang terpecah-pecah berdasarkan aliansi partai makin jauh dari visi Bhinneka Tunggal Ika :)

    BalasHapus