Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Twitter Menjadi Panglima Perang

Logo gambar wallpaper twitter



kebenaran bisa di manipulasi oleh kebohongan, dan tidak jarang kebohongan justru dipuja-puja menjadi kebenaran. 


Menjadi warganet yang baik tentu bukan hanya pesan yang disampaikan itu baik dan bijak. Toh niat baik yang kita tuangkan dalam dinding media sosial Twitter tidak selamanya direspon baik pula.


Ada yang berani menyuarakan fakta kebenaran disanggah juga dengan cacian, makian, sindiran. Semua itu wajar selama manusia hadir dengan berbagai prespektif dengan informasi yang dibawanya.


Saya berbicara tentang tagar penolakan Omnibus law yang sedang ramai. Kita mengenal hastage #tolakomnibuslaw #dprpenghianat dan deretan hastag yang menyudutkan peran DPR dalam mensahkan RUU menjadi UU. Keterlibatan masyarakat dalam hal ini memang dinilai minim. Keterlibatan akademis, pakar, ahli hukum, mahasiswa dan buruh justru dinilai termakan hoax oleh warganet lain. 


Faktanya perang tagar memang seringkali terjadi. Setelah hastag #tolakomnibuslaw #mositidakpercaya kemudian hadir penentang hastag di atas seperti #termakanhoax. Keterlibatan pro kontra terhadap mengesahan UU menjadi perang antara penguasa dan rakyat, rakyat dengan rakyat, kebenaran dengan fakta. Semua itu menggiring keterlibatan yang membuat gaduh warga Twitter.


Sudah masanya, kita tidak lagi berperang dengan pedang dan senjata. Atau seorang yang diktator yang berdiri di atas podium menyampaikan orasinya di atas ribuan orang. Dengan kekuatan magis dan sosok sang prajurit mampu membangkitkan massa untuk bergerak. Kekuatan lini masa seperti Twitter dan media sosial memiliki kekuatannya sendiri dalam menggerakkan mahasiswa, buruh dalam menolak UU Cipta Kerja. Serangkaian aksi di berbagai daerah memancing pergerakan yang begitu masif. 


Pergeseran sosok magis yang berwibawa seperti Ir. Soekarno, Mahatma Gandhi telah kalah dengan suara lantang tagar di Twitter yang menjadi kekuatan massa saat ini. Hal ini tidak lain ditandai dengan masifnya keterlibatan masyarakat muda dengan gelombang arus informasi. 



Media sosial hadir sebagai bentuk dari sosok yang gagah perkasa yang mampu menghipnotis penggunanya. Ya saya meyakini, meski tidak semua keterlibatan demonstran berasal dari platfrom media sosial. Hal yang perlu di yakini kekuatan platform media sosial menjadi instrumen  baru untuk menggerakkan massa.


Twitter dan media sosial bisa dimanfaatkan dalam menyuarakan kebenaran. Selain itu kehadiran dinding media sosial harus menjadi platform yang bermanfaat. Saya mungkin menyadari banyak informasi yang masuk di setiap sudut gadget akan berpengaruh bagi mental kita. Memilih dan memfilter informasi yang masuk juga harus memiliki kemapanan yang tangguh. Karena hari ini pun kebenaran bisa di manipulatif oleh kebohongan, dan tidak jarang kebohongan justru dipuja-puja menjadi kebenaran. 

Adam Mubarok
Adam Mubarok Mahluk mageran, kadang suka julid. Selalu senang melihat senyummu. ngak suka ngopi dan bukan perokok. Tapi Selalu beruntung kalo nongki sama pecinta kopi, meski selalu minum susu

Posting Komentar untuk "Ketika Twitter Menjadi Panglima Perang"